,


Kamis, 27 Desember 2012 - 17:16:54 WIB
Kisah Heroik dan Perlawanan Rakyat Lumajang
Kategori: Kabar Redaksi - Dibaca: 1316 kali

Lumajang banyak yang mengenal sebagai daerah yang sepi gejolak alias adem ayem. Apalagi, masyarakat Lumajang yang kebanyakan sebagai petani, sangat tidak suka aksi kekerasan dan demo. Namun, Lumajang yang adem tentrem raharjo, tiba-tiba berteriak dan mulai melawan terhadap sebuah kebijakan yang dianggap menganggu kenyamanan yang ada ditengah masyarakat.

Kembali ke masa lalu, Lumajang yang dikenal dengan kawasan Lamajang diketahui tempat yang subur, sehingga masyarakatnya tidak mau terlibat urusan duniawi. Kenapa dinamakan Lamajang, dari berbagai buku sejarah Lamajang diartikan, Lama/ Luma = Rumah dan Jang/Hyang = Suci, Rumah yang suci atau Tempat Suci. Dalam berbagai peninggalan sejarah yang berserakan, Lamajang dikenal sebagai kawasan religi dengan adanya Altarnaga Lingga Yoni yang berserakan diartikan untuk menyembahkan atau upacara pada dewa Shiwa atau dewa penghancur dalam kepercayaan umat Hindu.

Nama Lamajang kembali muncul saat Arya Wiraraja menjadi Raja Lamajang setelah mendapatkan wilayah sesuai janji Raden Wijaya. Pasanya, adipatih Sogeneb (Sumenep, sekarang) berjasa membantu Raden Wijaya merebut kekuasaan atas Jayakatwang Raja Singosari dan juga mendirikan Kerajaan Majapahit (Wilwatikta).

Memimpin Lamajang, Arya Wiraraja dalam berbagai sumber dan buku dikenal pemimpin yang dekat dengan masyarakat dan selalu berada ditengah masyarakat. Bahkan, saat meninggal dunia, masyarakat Lamajang berduka dan berbondong-bondong datang ke Kotaraja Lamajang "Situs Biting".

Mendapat Arya Wiraraja Meninggal Dunia, sang Anak Adipati Nambi yang menjadi Amengkubumi Majapahit datang menjengguk. Nambi sangat berduka cita mengetahui yang ayahanda meninggal dunia, padahal dicintai oleh rakyatnya.

Nambi yang mash berduka dan mengantikan untuk memimpin Lumajang sementara waktu dan sudah ijin ke Jayanegara anak dari Raden Wijaya disalah artikan dan dihasut oleh Mahapatih. Hasutan Mahapati pada Jayanegara sangat ampun dengan memberi kabar, Nambi bukan berduka melainkan menyiapkan pasukan untuk menyerang majapahit.

Mengetahui Nambi anak Arya Wiraraja sang Arsitek Nusantara (Majapahit), Jayanegara berpikir keras untuk menyerang Lamajang. Berkat hasutan Mahapatih, Jayanegera mengerahkan pasukannya untuk menyerang Lamajang dari segala penjuru. Mendapat serangan mendadak dan Nambi masih berduka, langsung melakukan perlawanan bersama Masyarakat Lumajang yang dianggap memberontak atau melawan Majapahit.

Masyarakat Lumajang dengan bekal seadanya dan alat perang dari pertanian melakukan perlawanan pada pasukan Majapahit, karena anak sang pemimpin dianggap hendak melawan Majapahit. Lamajang kalah, karena tidak siap melawan Majapahit yang lengkap dengan pasukan dan senjata yang lebih kuat. Nambi gugur dan masyarakat Lamajang berduka, sang pemimpin dihabisi dan dianggap pemberontak. Jiwa perlawanan tumbuh dimasyarakat Lamajang.

Bahkan, perlawanan masyarakat Lamajang dikenal dengan adanya perang kecil melawan majapahit. Lamajang tidak lagi aman, karena stigma dari rakyat Lamajang sebagai sarang pemberotak dikoarkan. Mendapat stigma atau trade mark, membuat rakyat Lamajang tidak putus untuk melawanan.
 
Perlawanan di masa perjuangan dan mempertahankan kemerdekaan juga dilakukan oleh rakyat Lumajang. Perlawanan rakyat muncul dengan adanya Laskar Hisbullah, Laskar M, Laskar Wirabhumi, Batalyon Ketunggeng untuk mengusir penjajah dari tanah Lamajang. Perlawanan memang sudah turun temurun di Lumajang dan dikenang setiap tahunnya. 

Perlawanan masyarakat Lumajang yang kini mulai tumbuh di berbagai desa di 21 kecamatan, mengingatkan perlawanan orang-orang Lamajang yang diganggu dalam peradaban dan kebudayaan lama disepakati bersama. Perlawanan masyarakat Lumajang muncul diawali dengan penambangan pasir besi di Wotgalih Kecamatan Yosowilanggun, yang mana masyarakat pantai selatan melawan dan terus berdemo ke kantor DPRD dan Pemkab. Anak, ibu dan orang tua  Wotgalih tak henti-hentinya datang ke Kota Lumajang berdemo. Mereka bukan melawan, tetapi ada kebijakan pemerintah yang kurang bisa diterima sesuai adat dan budaya masyaraikat Wotgalih.
 
Demo Jalan rusak yang tidak kunjung diperbaiki, sejumlah orang Lumajang melakukan perlawanan dengan menanami badan jalan dengan pisang, Seperti di Tempeh, Kunir dan Yosowilangun. Selain itu, perlawanan juga dilakukan di Desa Bago dan Bades, warga resah dengan jalan rusak, akibat truk pengangkut pasir hilir mudik. Perlawanan terus terjadi soal jalan rusak, bukan hanya di jalanan tetapi di dunia maya seperti Facebook dan Twitter. 

Gelombang perlawanan muncul, ketika masyarakat percaya pada pemerintah soal pilkades secara turun temurun diganggu dan dibohongi. Namun, pelaksanaan pilkades kembali diganggu oleh sebuah aturan dan disistem yang dipolitisir berdalih aturan perundang-undangan dan surat menteri dalam negeru. Akibatnya, gelombang perlawanan orang-orang Lumajang kembali pecah, akibatnya kantor pemkab Lumajang dijadikan tempat lempar jumroh sebagai bentuk kekesalan. Lempar jumroh yang dikiaskan seperti mengusir setan dari gedung yang didanai dari uang rakyat (pajak,red). Kekesalan yang ditumpahkan, karena masyarakat Lumajang tidak ditemui oleh pemimpin yang dipilih secara langsung tetap memilih duduk di singgasananya.

Perlawanan masyarakat Lumajang sudah dikenal sejak zaman sejarah, zaman perjuangan dan modern. Pemerintah Lumajang harus bijak dalam mengambil keputusan tanpa merusak peradaban dan kebudayaan yang disepakati masyarakat. menukil catatan dari Karl Max "Kebudayaan Dirusak Oleh Sistem". Sistem yang tidak sesuai dengan masyarakat, maka akan ada  perlawanan secara budaya dan masif. Pemimpin Lumajang harus banyak belajar dari sang Arsitek Nusantara "Arya wiraraja" untuk memimpin rakyat. Semoga Moto Lumajang Menuju Damai dan Sejahtera, bukan untaian kata untuk menyejukan hati rakyat yang terluka. Lamajang dan Lamajang hanya sebuah kota kecil yang memilihi sejarah perlawanan yang tidak akan surut berkalang tanah. (red)