,


Sabtu, 23 Juni 2012 - 15:09:35 WIB
"Iron City" Julukan Baru Lumajang
Kategori: Kabar Redaksi - Dibaca: 1302 kali

Sinar matahari yang menerpa bumi lumajang kian panas,Terlihat dari kejauhan peralatan penambang mengangkuti butiran-butiran pasir hitam. Lumajang, wilayah yang identik dengan wilayah kantong ini sekarang menjadi kota "Pasir" (City Iron). Ya sebutan baru untuk Lumajang tercinta.  Para investor berlomba-lomba untuk masuk ke Lumajang, untuk bisa menambang sang iron terbaik di Indonesia. Banyak cara dilakukan oleh pengusaha pasir besi, ada yang melobi ke pemerintah, pemegang IUP dan para penambang pasir ilegal.

Sungguh mencengangkan, dibumi yang dikenal dengan sejarah kebesaran lamajang  dimasa kepemimpinan Prabu Arya Wiraraja ini, banyak kekayaan alam yang sangat luar biasa. Salah satunya adalah Pasir Lumajang (Pasir Bangunan, Laut, dan Besi). Dan keberadaan pasir lumajang ini sungguh sangat menjanjikan dan menggiurkan bagi pengusaha. Tidak dipungkiri jika perusahaan seperti, PT. Aneka Tambang (Antam), PT. Indo Modern Mining Sejahtera (IMMS) dan PT. MMI terus berburu Pasir galian B yang mempunyai nilai ekonomis yang cukup tinggi.

Pemetaan lahan dua perusahaan itu sudah jelas,tepatnya didusun Kajaran Desa Bago Kecamatan Pasirian.  PT IMMS yang mendapat ijin IUP mendapat tempat di hati di masyarakat Desa Bades dan Desa Gondoruso untuk melakukan pertambangan. Bahkan, PT IMMS sudah mengantongi ijin dari eksplorasi menjadi eksploitasi di kawasan pesisir pantai antara Bambang dan Dampar yang luasnya 1.195,856 hektare melalui surat keputusan Bupati Lumajang, Nomor: 503/436/427.14/2010, tanggal 20 Juli 2010 lalu. 

Ironisnya, limpah ruahnya pasir ini ternyata tidak berdampak pada pertumbuhan ekonomi, kesehatan, peningkatan pendidikan.  Dan yang bisa menikmati hanya sebagian kelompok masyarakat kecil yang dekat dimana pasir itu "dikeruk". Sedangkan yang lainnya masih belum bisa menimati, hal ini masih dipertanyakan banyak pihak. Dampak yang dirasakan gangunan lalu lintas, karena hilir mudi truk pengangkut pasir yang berakibat kecelakaan. Yang paling parah pada kerusakan jalan dimana-mana, tidak seimbangnya penghasilan asli daerah dan kerusakan infrastruktur.

Sebagaian  masyarakat Lumajang, ada rasa kekhawatiran tersendiri. Rejeki yang dihasilkan dari melimpah ruahnya pasir ini jika mengabaikan harkat martabat  masyarakat lumajang akan terjadi protes massal. Aksi penolakan masih dilakukan oleh masyarakat Desa Wotgalih Kecamatan Yosowilanggun yang sudah tahu akan dampak pertambangan. Apakah penolakan tambang pasir besi akan terjadi dilain tempat, seperti protes pada galian C yang dibekingi investor karena iri pada PT. Mutiara Halim (MH).
 
Ada pepatah yang sering diungkapkan tokoh Agama dan Masyarakat Lumajang, Ayam Mati dilumbung Padi. Selamat memiliki julukan baru kotaku tercinta "Iron City". (*)