,


Rabu, 13 Juni 2012 - 19:42:40 WIB
Masyarakat Menagih, Bupati Ingkar
Kategori: Kabar Redaksi - Dibaca: 658 kali

Masyarakat Lumajang dikagetkan dengan sulitnya masuk ke Pendopo Bupati, seperti yang menimpa warga Desa Wotgalih Kecamatan Yosowilanggun saat dijadwalkan bertemu dengan bapaknya. Dugaan, berbagai masyarakat Lumajang terhadap orang wotgalih akan melakukan aksi perusakan dan anarkis tidak terbukti, usai menjebol pintu gerbang rumah dinas bupatinnya yang dijaga aparat kepolisian. Warga langsung duduk dikursi pendopo dengan tertib setelah ditenangkan aparat kepolisian yang ramah.

Warga duduk dengan rapi dan tertib, berharap Bupatinya yang dipilih dalam pilkada 2008 lalu mau menemui sesui janjinya. Janji seorang pemimpin adalah janji tuhan dan tidak pernah ingkar. Tetapi, bupati yang dipilih masyarakat wotgalih tidak kunjung muncul, meski aparat kepolisian dan tokoh agama serta masyarakat wotgalih menjamin keselamatan pemimpin Lumajang.

Aneh dan heran, Gubernur Jawa Timur, Ir. Soekarwo yang memberikan contoh pada pemimpin di 38 kabupaten/ kota dengan berani menemui pendemo saat ke kantornya serta menerima aspirasi masyarakatnya. Ternyata, tidak gayung bersambut di Lumajang, Bupati Lumajang, SJahrazad Masdar enggan menemui masyarakatnya dirumah dinasnya, padahal sudah berjanji 12 Mei 2012 berjanji menemui.

Masyarakat wotgalih yang ingin ditemui bapaknya, ternyata harus menahan diri, meski masuk ke pendopo sulitnya minta ampun. Warga wotgalih yang tidak ingin dibenturkan dengan aparat, beberapa kali sudah pamit dan minta ijin masuk pendopo. Karena prosedur yang harus dilakukan polisi dalam pengamanan aksi massa, polisi yang dibiaya rakyat harus melawan yang membayar.

Lagi-lagi, apa yang disangka pada warga wotgalih akan melakukan sikap anarkis tidak terbukti. Mereka lebih memilih menunggu kebijakan bapaknya, tetapi apa yang ditunggu, sang bapak ingkar dari janji yang digemborkan media massa dan utusan ke wotgalih. Disini, bisa dilihat keras dan angkuhnya pemimpin Lumajang saat ini.

Wahai pak bupati, ingatlah saat anda dulu waktu akan mencalon bupati di pilkada 2008 lalu, anda rela bertandang kerumah masyarakat dan kelompok warga untuk mencari dukungan. Tetapi, kenapa disaat masyarakat yang dulu memilih anda, meminta dukungan untuk mencabut ijin yang merusak lingkungan tidak mau ditemui. Pak bupati, Lumajang tidak butuh bapak yang keras kepala, angkuh dan sombong saat menjadi pemimpin. Melainkan bisa ngemong dan menenangkan anaknya yang rumahnya terancam dari kerusakan bencana alam.

Pak bupati, Lumajang ini dititipkan ke anda, karena bergelar doktor dan mantan birokrat. Tetapi, janji yang kau janjikan soal kesejahteraan bermartabat bagi wotgalih, ternyata sebuah kerusakan tatanan bermasyarakat. Wotgalih sudah merasakan dari dampak tambang pasir besi sejak tahun 1998-2008, tidak ada pembangunan dan pendapatan ekonomi membangun. Masyarakat Wotgalih tetap hidup tentram dan bersahaja dengan bertani. Kini kau usik ketentraman masyarakat wotgalih dengan mengeluarkan ijin pertambangan yang merusak sendi-sendi kehidupan bermasyarakat. Apalagi, ketika anak merusak pagar rumah bapak, anda melaporkanb kepolisian, dengan dalih menegakkan hukum. Masyarakat Lumajang tidak ingin, warga Wotgalih yang juga bagian daerah yang anda pimpin disakiti juga meraskaan.

Pak bupati, anda menjadi pemimpin karena sebuah amanah, bukan karena diberi atau warisan. Mari pak, jadikan Lumajang menjadi daerah yang sejahetra dan bermartabat, bukan sebaliknya. Lumajang kota yang adem ayem jangan dijadikan kota yang penuh persoalan untuk kepentingan se-SA'AT. (red)